Subscribe

Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Aug 25, 2009

Kembali Merantau?

Setelah sekian lama merantau, kini daku kembali ke kampung halaman. Masih lagi terpahat dalam sanubari, daku mula bermusafir pada pertengahan tahun 2003, di waktu usia ku terasa masih terlalu muda. Setelah hampir enam (6) tahun, daku kembali. Terasa diri sudahpun tua apabila melihat paparan wajah di cermin.

Dalam menyambut permulaan Ramadhan 1430H ini, pelbagai masalah yang menjelma hadir mengusutkan kepala. Kadang-kadang diri murung memikirkan kaedah penyelesaian masalah yang masih buntu. Buntu tiada jalan yang ditemui.

Sambil termenung memikirkan penyelesaian masalah yang dihadapi, kerja tetap diteruskan bagi menunaikan amanah yang telah disanggupi. Hakikat kehidupan yang tidak boleh terlepas daripada masalah. Dugaan yang hadir sesuai dengan tahap keimanan seseorang insan.

Sudah sunah orang berjuang,
Mengembara dan berkelana,
Miskin dan papa jadi tradisi,
Berenggang dengan anak dan isteri.

Biasanya para pejuang,
Rumah mereka merata-rata,
Rezekinya tidak menentu,
Tidur baringnya tak berwaktu.

Begitulah nasyid yang kedengaran di komputer. Lagu yang dinyanyikan oleh kumpulan Rabbani menerusi album terbaru mereka, Nostalgia Nadamurni. Album terakhir sebelum kematian Ust Asri, vokalis utama Rabbani.

Mendengar lagu ini menyebabkan diri terasa ingin kembali bermusafir seperti dulu. Mencari pengalaman di tempat orang lain. Mencari cabaran dan permasalahan yang lebih besar. Perkara ini masih lagi bermain-main di fikiran. Diri masih belum buat keputusan mengenai perkara ini.

Sebagai pengakhiran pada penulisan ini, daku sering teringat akan pesanan Allahyarham Ust Asri, Rabbani dalam lagunya, bahawasanya tiada apa yang dimiliki oleh manusia di dunia ini. Manusia hanya mampu merancang, mampu mengusahakannya, namun semua percaturan Allah telah tetapkan. Daku redha dengan segala ketentuan Allah.

“Hati manusia adalah milik Allah”, nasihat dari seorang sahabatku. Alhamdulillah dengan kurniaan bulan Ramadhan ini, hati ku lebih tenang dalam menghadapi segala cabaran yang melanda. Mengajar diri lebih matang dalam membuat perancangan hidup.


Rabbani - Mana Milik Kita

Mana milik kita, tidak ada milik kita,
Semua yang ada, Allah yang punya.

Tidak ada kita punya, kita hanya mengusahakan saja,
Apa yang kita dapat, Allah sudah sediakannya.

Kita Allah punya, bumi langit ciptaanNya,
Miliklah apa saja, tidak terlepas dari ciptaanNya.

Mana kita punya, tidak ada kepunyaan kita,
Kita hanya mengusahakan, apa yang telah ada.

Mengapa kita sombong, memiliki Allah punya,
Mengapa tidak malu, kepada Allah yang empunya.

Patut bersyukur kepada Allah, yang memberi segalanya,
Malulah kepada Allah, kerna milik ia punya.

Janganlah berbangga, apa yang ada pada kita,
Kalau Allah tidak beri, kita tidak punya apa-apa.

Janganlah mengungkit, mengungkit jasa kita,
Jasa kita di sisiNya, yang sebenarnya Allah punya.

Marilah kita bersyukur, bukan berbangga,
Bersyukur kepada Allah, bukan mengungkit jasa.

Gunakanlah nikmat Alllah itu, untuk khidmat kepadanya,
Selepas itu lupakan saja, agar tidak mengungkit-ngunkitnya.

2 comments:

Nur Hafiqa Sabarani said...

salam.minta kebenaran penulis copy isi article.tq

Ibnu Ahmad said...

dibenarkan...